RITME yang aneh, yang jauh berbeda dengan tempat hidup mereka sebelumnya. Mereka datang bukan tanpa apa-apa. Mereka membawa kisah dan cerita. Tradisi adat istiadat mereka. Tutur kata, gerak tubuh, dan tawa mereka semua dipengaruhi tanah yang mereka sebut sebagai “rumah”.
Namun, segalanya tak berjalan sebagaimana mestinya, beberapa hal mulai diam-diam menghilang. Inilah kisah tentang apa yang hilang dari mereka. Tentang apa yang mereka lindungi dan jaga. Yang perlahan hilang karena pengaruh jarak terhadap budaya, identitas, dan rasa memiliki.
Salah satu mahasiswi yang kami ajak bicara, Sisilia Tebaibo Potowapea, mengatakan bahwa perbedaan budaya bukanlah kejutan awal, melainkan cuaca panas Surabaya. Berbeda dengan kesejukan tanah tempat ia berada sebelumnya, panas di Surabaya sangat terasa di kulitnya.
“Panas banget. Jadi, sebelumnya kan aku tinggalnya di Kabupaten Semarang. Nah, itu cuacanya sejuk. Dan, dikelilingi sama pegunungan. Jadi, pas aku ke Surabaya itu tiba-tiba agak susah juga beradaptasi sama panasnya Surabaya. Yang kata orang-orang, ‘satu orang mataharinya satu’,” kata Sisil, pada Senin, 17 November 2025.
Suasananya terasa berbeda dari tempat asalnya. Namun, bagi yang lain, seperti Emoge Nendamwai Begamigau, yang telah tinggal di sini jauh lebih lama, keterkejutan itu telah memudar, dan menjadi satu dekade adaptasi.
“Kalau di Surabaya mulai 2016 dari SMA. Terus lanjut kuliah di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Ya, sudah hampir 10 tahun,” ujar Emoge, pada Sabtu, 22 November 2025.
Namun, di balik panasnya itu, tersimpan perjuangan yang lebih mendalam: Arti membawa Papua ke dunia yang tak memahami, tak terdengar, atau tak tampak seperti Papua. Beberapa kehilangan terjadi begitu saja tanpa disadari. Kehilangan kebiasaan, budaya, dan cara hidup sebagaimana mestinya Orang Asli Papua (OAP).
Tradisi yang Perlahan Hilang
Beberapa tak disadari hingga berbulan-bulan kemudian, ketika ritual yang telah dijalani sedari kecil menjadi sesuatu yang hanya bisa mereka deskripsikan, tak bisa mereka alami. Ketika kami bertanya kepada Sisil ritual apa yang paling ia rindukan, ia menjawab tentang Barapen, yang juga dikenal sebagai “Bakar Batu”.
Barapen bukan sekedar memasak. Ini adalah pertemuan komunitas. Sebuah pemersatu upacara di mana makanan, api, dan komunitas terjalin sebagai satu identitas. Semua orang berkumpul, bersukacita. Barapen biasa dilakukan untuk merayakan sesuatu, termasuk semacam segel perdamaian dari sebuah konflik.
“Kalau Barapen, kita masaknya menggunakan batu. Jadi, kita gali lubang dulu, terus kita masukin batu-batu sama arang-arang panas. Nah, itu juga sulit banget dilakukan kalau misal ada di kota perantauan seperti di Surabaya. Dan, juga misal Barapen itu kan butuh banyak orang. Sedangkan setahu saya, mahasiswa Papua yang kuliah di Surabaya itu sangat sedikit,” tegas Sisil.
Apa yang ia gambarkan lebih dari sekedar makan. Tapi sesuatu yang lebih merupakan dunia sosial, dunia yang tidak bisa ditampung di dalam kamar sewaan yang sempit. Namun, bagi Emoge, ritual tersebut tidak sepenuhnya hilang, justru bertahan dalam momen-momen yang langka dan spesifik.
“Ya, saya bangga dengan tradisi dan budaya dari mana saya asal. Dalam hal ini seperti budaya Bakar Batu, untuk acara ucapan syukur. Ya, biasanya sering digunakan untuk ibadah pengucapan syukur, misal ada wisudawan, atau ibadah natal. Jadi biasanya kita kumpul buat Bakar Batu, buat ibadah natal bersama,” tutur Emoge.
Ada yang merasa kehilangan. Yang lainnya berjuang untuk mempertahankannya tetap hidup, setidaknya sekali dalam satu tahun. Barapen tidak hilang selamanya. Tapi, di sini, Bakar Baru sedang “tidur”. Lalu kami menanyakan sesuatu yang lebih pribadi. Apakah mereka pernah merasa perlu menyembunyikan siapa diri mereka?
“Sejauh ini nggak ada sih, karena aku bangga sama budayaku sendiri. Dan, justru banyak dari teman-teman yang pengen tahu budaya Papua itu gimana sih. Jadi aku dengan senang hati menceritakan. Jadi nggak ada rasa malu untuk menutupi budayaku sendiri,” sahut Sisil.
Melawan Rasa Takut karena Berbeda
Sisil berdiri teguh. Namun, identitas bukan hanya soal tradisi, ini juga tentang rasa memiliki dan suatu momen ketika hal itu tampaknya tidak mungkin tercapai. Dan, tidak semua orang memiliki keyakinan yang sama.
“Mungkin juga adanya rasa minder dari kita yang tidak berani atau malu untuk menunjukkan siapa diri kita, adat istiadat yang kita bawa, kita tidak berani menunjukkan ke teman-teman sekitar, sehingga membuat kita jadi malu dan bergaul dengan kita-kita saja, tidak berani bergaul dengan orang lain,” jawab Emoge.
Bagi sebagian orang, kesombongan berjuang melawan rasa takut dianggap terlalu berbeda. Kami bertanya apakah ia pernah merasa terasing atau apakah ada momen yang membuatnya merasa berat karena berada jauh dari rumah. Jawabannya, pada awalnya, sederhana saja.
“Kalau sejauh ini nggak ada sih. Nggak ada kejadian apapun karena teman-teman di sini juga welcome banget. Aku juga sudah mulai bisa beradaptasi di sini,” imbuh Sisil.
Namun, kisah mahasiswa Papua di Surabaya jauh melampaui kenyamanan satu orang saja. Ia tercipta oleh sejarah, oleh kesalahpahaman, dan terkadang oleh rasa takut. Emoge sangat memahami kesunyian ini.
“Emang tantangannya, saat kita buat perkumpulan, takut adanya diskriminasi dari masyarakat, atau misalnya terjadi pengusiran dari lingkungan sekitar,” tutur Emoge.
Sementara Sisil disambut baik, yang lain merasa waspada.
Aksen Papua menjadi pengingat jati diri mereka, dan terkadang, menjadi sumber kebingungan bagi orang lain. Namun, kesalahpahaman bukanlah aspek yang paling sulit. Bahkan hampir tidak ada.
“Paling cuma di logat saja. Jadi, kadang meskipun aku sudah lama merantau di Jawa dari SMP, tapi kadang logat Papua aku tuh masih tiba-tiba muncul. Nah, itu kadang teman-teman nggak ngerti dan kadang nanya ini artinya apa sih gitu. Jadi, mungkin sampai saat ini cuma logatnya itu aja,” kata Sisil.
Bagi Sisil, kebingungannya terletak pada kata-kata. Bagi Emoge, kesalahpahaman seringkali bersumber dari kebiasaan, seperti mengunyah pinang, sebuah tradisi yang terkesan asing bagi mata yang belum pernah melihatnya.
“Ya, menurut saya sih, emang wajar aja, mereka mungkin belum terbiasa dengan budaya kami, budaya Papua terkait untuk konsumsi pinang. Tapi, dalam hal ini ya pandangannya mereka mungkin mempertanyakan tentang rasa atau juga efek samping dari makan pinang,” ujar Emoge.
Tak ada pinang di Surabaya, sehingga mereka harus menunggu kerabat datang dari Papua untuk mendapatkannya. Namun, bukan soal ketersediaan pinang saja yang jadi soal. Kadang mereka harus sembunyi-sembunyi untuk memakan pinang karena takut dicibir atau dicap jorok.
Kasus Rasisme Mengubah Segalanya
Tahun 2019 sebuah hinaan rasis diteriakkan kepada mahasiswa Papua di kota ini. Momen yang berubah menjadi protes, kemarahan, ketakutan dan trauma mendalam.
“Mahasiswa Papua pernah dikatakan ‘monyet’. Dari kejadian itu, banyak sekali mahasiswa Papua yang ditarik pulang dari Surabaya ke Papua. Dan, dari mereka pun sampai sekarang ada beberapa temanku yang jujur mereka sangat susah sekali ya untuk berbaur di Surabaya,” ungkap Sesil.
Reputasi sebuah kota menjadi bagian dari keputusan setiap siswa. Keluarga mereka bertanya-tanya apakah kota Surabaya aman. Berat bagi Sesil dan keluarganya meski pada akhirnya tetap memutuskan berkuliah di Surabaya. Apalagi, Sesil pernah memiliki pengalaman menjadi korban rasisme ketika masih duduk di bangku SMP.
“Temanku pernah bilang ke aku kayak gini, ‘Sil, kamu kalau sudah malam, nggak usah pakai baju telanjang aja, nggak kelihatan’. Dan, itu kan waktu aku masih SMP kelas 1. Aku mikirnya, oh ya itu kayak cuma bercandaan biasa,” ungkap Sesil.
Kata-kata dimaksudkan untuk mempermalukan. Dan, ada kalanya kata malang datang. “Ada temanku juga bilang kata ‘monyet’. Jujur kayak, aku langsung nangis di situ. Bener-bener salah satu pengalaman terburuk, yang nggak pernah bisa aku lupain,” ucap Sesil.
Pada akhirnya, mereka tidak meminta banyak. Hanya untuk dilihat. Untuk dipahami. Emoge berbicara tentang toleransi. Sesil dan Emoge berharap tidak ada lagi rasisme. Keduanya kini memiliki perkawanan yang beragam dan baik di kampus.
Jauh dari rumah mereka, mahasiswa Papua di Surabaya memikul dua dunia di pundak mereka. Satu dunia yang tercipta dari pegunungan, tungku batu, dan suara-suara alam yang lantang. Dunia lain yang terbuat dari kendaraan serba cepat, jalanan yang panas, dan tatapan mata yang asing.
Beban ganda itu karena mereka hidup merantau jauh dari keluarga, sekaligus mereka adalah Orang Asli Papua. Situasi yang tak mudah untuk dijalani.
Tim Penulis: Frank Purnomo, Christian Otniel Hartanto, Joshua A. Matoke, Pinus Omabak, dan Jolin Kimberly*
—
*Artikel ini merupakan naskah produk jurnalistik audio (radio) untuk tugas Ujian Akhir Semester mata kuliah Penyiaran Digital, Semester 1, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Naskah telah melalui proses penyuntingan dan penyesuaian oleh redaksi.